Breaking News

Rabu, September 24

Makalah Kependudukan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Louis Wirth dalam JW Schoort yang mendefinisikan kota sebagai suatu pemukiman permanen yang cukup besar, padat, heterogen, dan selalu mengedepankan perubahan demi kemajuan warganya, dimana sebuah kota mau tidak mau harus menerima setiap perubahan yang terjadi. Saat ini semakin banyak kota-kota besar di Indonesia yang semakin berkembang seiring tuntutan jaman. Dengan keadaan yang terus berubah, pertumbuhan penduduk pun semakin meningkat dengan adanya peningkatan pertumbuhan penduduk tersebut maka secara otomatis kebutuhan penduduk akan tempat tinggal juga akan semakin mendesak, selain itu juga meningkatnya kebutuhan untuk fasilitas umum dan fasilitas khusus sebagai sarana pendukung. Fasilitas umum dan fasilitas khusus merupakan salah satu faktor penggerak untuk pertumbuhan suatu kota. Suatu strategi terhadap masalah struktur massa perkotaan dan struktur ruang perkotaan perlu diarahkan secara konkret atau nyata pada tiga aspek yaitum em perkuat, mentransformasikan, dan memperkenalkan. Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang sudah ada didalam suatu kawasan perlu diperkuat supaya kawasan itu lebih jelas dalam realitasnya. Selain itu strategi ini elemen-elemen perkotaan yang masih berbenturan didalam suatu kawasan perlu ditransformasikan supaya kawasan itu lebih mendukung realitasnya, serta dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang belum ada dalam suatu kawasan perlu diperkenalkan supaya kawasan itu lebih berarti dalam realitasnya.
Kota Bogor sebagaimana lazimnya kota-kota lain di Indonesia, memiliki perkembangan yang cukup pesat dalam berbagai hal, pembangunan pun berjalan hampir di segala bidang, baik pembangunan secara fisik maupun non fisik. Dari waktu ke waktu kota Bogor memperlihatkan tingkat perkembangan pembanguna
yang semakin pesat. Pembangunan terjadi pada berbagai areal kota yang secara bisnis strategis, termasuk pada areal ataupun bangunan yang bersifat komersil. Wilayah kota Bogor memiliki beberapa keunikan yang cukup memberi pengaruh kepada perkembangan tersebut. Ciri khusus yang disandang oleh kota Bogor tersebut dikarenakan oleh adanya kota Bogor yang memiliki fungsi-fungsi pelayanan yang menjangkau secara keseluruhan, yang digunakan sebagai pemenuh kebutuhan penduduk kota Bogor itu sendiri. Adapun salah satu keunikan yang cukup memberi pengaruh adalah pembagian wilayah atau zona etnis yang sebagaimana diatur dalam peraturan wilayah pada jaman kolonial Belanda. Pembagian zona etnis tersebut dibuat karena adanya peraturan sistem penyerahan hasil bumi kepada kompeni melalui bupati. Disebabkan oleh hal inilah kota Bogor terbagi menjadi beberapa bagian wilayah, karena adanya kemajuan jaman seiring dengan berkembangnya pembangunan secara pesat wilayah-wilayah tersebut lambat laun melebur sehingga ciri suatu zona dari etnis tertentu makin lama semakin memudar akan tetapi masih juga terdapat beberapa wilayah etnis yang terlihat masih memiliki fungsi yang berkesinambungan dengan fungsi awalnya.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Bogor dapat dikatakan sebagai daerah pinggiran dari pusat Ibukota Indonesia yaitu Jakarta. Oleh karenanya banyak masyarakat yang berbondong-bondong mencari penghasilan dikota Jakarta tersebut dan tidak sedikit juga dari mereka itu diantaranya yang bertempat tinggal di Bogor. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya masyarakat pendatang yang mengakibatkan kepadatan penduduk serta kesemerawutan di kota Bogor karena ada kemungkinan bahwa di Jakarta sudah tidak sanggup untuk membendung kepadatan penduduk yang akhirnya tumpah ruah ke kota – kota yang bersebelahan seperti Bogor. Dengan adanya pendatang tersebut secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku masyarakat asli daerah terhadap masyarakat pendatang. Selain itu juga akan memberikan dampak (negatif dan positif) bagi perkembangan tata kota Bogor karena banyak pendatang yang berdampak sosial, budaya, politik serta hukum itu sendiri.
Tidak sedikit pendatang dan masyarakat asli Bogor yang mencari penghasilan untuk menutupi segala kebutuhannya dengan cara berdagang di pinggiran jalan seperti di sekitar Kebun Raya Bogor, Pusar Grosir Bogor, dan ditrotoar-trotoar sekitar pusat kota. Selain itu juga banyak yang menjadi supir angkutan umum dari berbagai trayek. Jika meninjau lebih jauh lagi bahwa supir angkutan umum ini banyak macamnya.Pertama ada supir yang memiliki surat izin mengemudi (A), dan juga tidak memiliki surat izin mengemudi (A).Kedua ada yang disebut supir tembak, artinya didalam satu mobil angkutan umum memiliki dua supir dengan cara bergantian. Dan ini nyata ada dikehidupan sekitar kita. Semua ini dilakukan karena semakin berkembang pesatnya kota Bogor juga semakin meningkatnya nilai dan harga kebutuhan masyarakat. Seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan lain- lain.
Ruang Lingkup Kota Bogor
2.1.1 Sekilas Kota Bogor
BOGOR - Kota Bogor mempunyai sejarah yang panjang dalam Pemerintahan, mengingat sejak zaman Kerajaan Pajajaran sesuai dengan bukti- bukti yang ada seperti dari Prasasti Batu Tulis, nama-nama kampung seperti dikenal dengan nama Lawanggintung, Lawang Saketeng, Jerokuta, Baranangsiang dan Leuwi Sipatahunan diyakini bahwa Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran terletak di Kota Bogor. Pakuan sebagai pusat Pemerintahan Pajajaran terkenal pada pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baginda Maharaja) yang penobatanya tepat pada tanggal 3 Juni 1482, yang selanjutnya hari tersebut dijadikan hari jadi Bogor, karena sejak tahun 1973 telah ditetapkan oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor sebagai hari jadi Bogor dan selalu diperingati setiap tahunnya sampai sekarang. Pada masa setelah kemerdekaan, yaitu setelah pengakuan kedaulatan RI Pemerintahan di Kota Bogor namanya menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarakan Udang-undang Nomor 16 Tahun 1950.
2.1.2 Tata Ruang Kota Bogor
Kota Bogor memiliki luas wilayah 11.850 Ha. Lima jenis penggunaan
lahan yang dominan adalah sebagai berikut :
Permukiman
: 69,88 %
Pertanian
: 10,05 %
Jalan
: 5,31%
Perdagangan dan jasa
: 3,52 %
Badan sungai/ situ/ danau
: 2,89 %
Sesuai dengan karakteristik perkotaan khusus, kondisi tersebut berfungsi sebagai kota pemukiman serta perdagangan dan jasa. Selain itu juga Kota Bogor dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu :
Batas – batas administratif Kota Bogor adalah sebagai berikut :
Sebelah utara
: Kecamatan Sukaraja, Kec. Bojong Gede dan Kecamatan
Kemang, Kabupaten Bogor.
Sebelah barat
: Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Dramaga, kabupaten
Bogor.
Sebelah selatan
: Kecamatan Cijeruk, dan Kecamatan Caringin,
Kabupaten
Bogor.
Sebelah timur
: Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi, Kabupaten
Bogor.
2.1.3 Populasi Penduduk Kota Bogor
Jumlah penduduk di Kabupaten Bogor tahun 2002 sebesar 3. 826.315 juta jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata mencapai 1.065 jwa per km2. Laju pertumbuhan penduduk pertahun selama periode tahun 1990-1999 adalah 1,76 % dan mengalami penurunan tahun 1999 menjadi 1,37 %. Namun dilihat dari table dibawah bahwa pada tahun 1999-2002 terjadi peningkatan jumlah penduduk yang masih dapat disebut normal.
Sekitar 28,92 % penduduk Kabupaten Bogor merupakan kelompok umur 0 - 14 tahun dengan jumlah 1 009 785 jiwa, penduduk usia 15 - 65 tahun adalah 66,76 % dengan jumlah 2 332 972 jiwa, sedangkan kelompok usia > 65 tahun sekitar 4,32 % dengan Status Kualitas Lingkungan (SoE) Kabupaten Bogor 8 Kabupaten Bogor
Jumlah 153 719 jiwa. Bila dilihat dari rata-rata laju pertumbuhan penduduk menurut struktur umur ini terlihat bahwa usia tenaga kerja produktif ini mempunyai laju pertumbuhan yang cukup besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By VungTauZ.Com